Kamis, 01 Desember 2011

Strategi Pembelajaran


STRATEGI PEMBELAJARAN

Banyak ungkapan yang sering dilontarkan melalui berbagai pertemuan atau media massa tentang rendahnya kualitas pendidikan di negara kita dewasa ini, bukan saja kualitas pendidikan sebagai dampak langsung yang dapat dilihat melalui hasil belajar anak tetapi sampai pada dampak pengiring yang dianggap kurang berhasil dibentuk melalui berbagai lembaga pendidikan. Hal ini dapat dilihat melalui berbagai tampilan perilaku yang kurang sesuai dengan martabat dan nilai-nilai luhur bangsa. Indikasi ini apabila dilihat dari aspek pembelajaran salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya perhatian para tenaga pendidik dalam merencanakan kegiatan pembelajaran khususnya dalam pemilihan strategi pembelajaran yang tepat.

Strategi pembelajaran merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. Pemilihan strategi pembelajaran yang tepat akan sangat membantu dalam menunjang keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan serta membangun iklim pembelajaran yang positif yang mampu meningkatkan peran aktif siswa dalam belajar. Suasana pembelajaran yang menyenangkan sebagai dampak dari kemampuan guru dalam memilih strategi pembelajaran yang tepat akan memunculkan semangat siswa untuk belajar lebih lanjut dan mendorong mereka untuk mengembangkan kebiasaan belajar sepanjang hayat dimana pun mereka berada. 

Berdasarkan alasan yang telah dikemukakan di atas, penyusun mencoba menguraikan beberapa gagasan mengenai strategi pembelajaran yang dikemukakan oleh beberapa akhli. Adapun pembahasan strategi pembelajaran dalam makalah ini meliputi pengertian, pertimbangan pemilihan, prinsip dan jenis strategi pembelajaran.
Description: http://4.bp.blogspot.com/_umKi8rf8sbQ/TNpy0kc8NSI/AAAAAAAAADY/_VOw1n0VkGw/s1600/4.gif


KAJIAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN
A.  Pengertian Strategi Pembelajaran
Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang tidak selalu sama. Strategi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani yaitu Strategos yang berarti panglima atau jenderal, ilmu kejenderalan, ilmu kepanglimaan. Dalam Ensiklopedia Pendidikan, strategi disebut sebagai “The art of bringing forces to the battle field in fourable position.” Mengenai hal ini Gulo memberikan komentar bahwa strategi merupakan suatu seni yaitu seni membawa pasukan ke medan pertempuran dalam posisi yang paling menguntungkan (Gulo, 2002, 1 – 2). Strategi dapat pula diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan (Djamarah, 1996 : 5).

Strategi dalam dunia pendidikan dapat diartikan sebagai suatu seni dan ilmu untuk membawakan pengajaran di depan kelas sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien (Gulo, 2002 : 1). Rohani dan Ahmadi memberikan pengertian strategi dalam konteks pengajaran sebagai pola umum tindakan guru dan peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Rohani, 1991 : 31). Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Rohani dan Ahmadi, Djamarah dan Zain menyebutkan bahwa strategi dalam konteks belajar mengajar dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan yang telah digariskan (Djamarah, 1965 : 5). Nana Sudjana (1988) sebagaimana dikutip Rohani mengartikan strategi mengajar (pengajaran sebagai taktik yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran (TIK) secara lebih efektif dan efisien (Rohani, 1991 : 33).

Istilah pembelajaran muncul secara bertahap dan perkembangannya itu disebabkan karena perhatian terhadap anak didik dalam usaha pendidikan dan pengajaran. Pada awalnya, istilah “mengajar” sangat populer sebagai suatu upaya untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa. Pandangan tentang anak berubah dengan penghargaan yang tinggi kepada anak sebagai manusia, sehingga istilah mengajar yang memiliki nuansa mencekoki anak dengan berbagai pengetahuan merupakan suatu tindakan searah dari guru dan untuk kepentingan guru (teacher oriented). Bersamaan dengan hal tersebut para ahli mulai menyadari bahwa sesungguhnya dalam pendidikan dan pengajaran, semua upaya pihak terkait dilakukan kepentingan siswa dan bukan untuk kepentingan guru, maka istilah “mengajar” diganti dengan proses “belajar-mengajar”. 

Akan tetapi istilah “belajar-mengajar” dirasakan tidak tepat, karena dalam praktek penyusunan persiapan mengajar dalam bentuk satuan pelajaran, para guru sering terperosok kepada penataan kegiatan belajar mengajar secara terpisah, sehingga tersusun suatu daftar kegiatan yang dibagi dua, yaitu kegiatan guru dan kegiatan siswa, sehingga muncul istilah baru yang lebih tepat yaitu “membelajarkan” atau “pembelajaran”, karena mengajar itu merupakan upaya guru untuk membangkitkan yang berarti menyebabkan seseorang bangkit, yang berarti mendorong siswa untuk belajar. Untuk memperjelas uraian di atas dapat diilustrasikan pada bagan di bawah ini.

MENGAJAR ® BELAJAR-MENGAJAR ® MEMBELAJARKAN/PEMBELAJARAN

Belajar dan pembelajaran tidak dapat dipisahkan, dua kata ini saling berkaitan, karena itu pembelajaran (Dikti, 1993) dapat diartikan sebagai upaya pembimbingan terhadap siswa itu secara sadar dan terarah berkeinginan untuk belajar dan memperoleh hasil belajar sebaik-baiknya, sesuai dengan keadaan dan kemampuan siswa yang bersangkutan (Sudirdjo, 2002). 

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan tertentu. Kemp (1995) menyebutkan strategi pembelajaran sebagai suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan Dick dan Carey (1985) menyebutkan bahwa strategi pembelajaran merupakan suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa (Sanjaya, 2006, 1924). 

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa “Strategi pembelajaran adalah suatu cara atau taktik yang dilakukan oleh guru dalam upaya pembimbingan terhadap siswa agar siswa itu secara sadar dan terarah berkeinginan untuk belajar dan memperoleh hasil belajar sebaik-baiknya sesuai dengan keadaan dan kemampuan siswa yang bersangkutan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

B.  Komponen Strategi Pembelajaran
Komponen strategi pembelajaran terdiri dari : 1) tujuan, 2) bahan pelajaran, 3) kegiatan pembelajaran, 4) metode, 5) alat, 6) sumber pelajaran dan 7) evaluasi (Roestiyah, 1991; 44).

Tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita berikan. Bahan pelajaran merupakan substansi materi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran merupakan inti dari kegiatan dalam pendidikan itu sendiri. Metode merupakan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa bentuk metode pembelajaran diantaranya metode proyek, eksperimen, pemberian tugas, diskusi, sosiodrama, demonstrasi, problem solving, karyawisata, tanya jawab, latihan dan ceramah. Alat merupakan segala sesuatu yang digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, misalnya papan tulis, spidol, OHP dan lain sebagainya. Sumber pelajaran merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar, misalnya manusia, buku, perpustakaan, museum dan lain sebagainya. Sedangkan evaluasi dapat diartikan sebagai kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan hasil belajarnya.


C.  Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran
Berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan dalam memilih strategi pembelajaran yang akan dilakukan diantaranya pertimbangan yang berhubungan dengan : 1) tujuan yang ingi dicapai, 2) bahan atau materi pembelajaran, 3) siswa, 4) pertimbangan lainnya (Sanjaya, 2006 : 128).

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai diantaranya apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai diantaranya apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, afektif atau psikomotor? bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkatnya tinggi atau rendah? Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis?

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan bahan atau materi pembelajaran diantaranya apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum atau teori tertentu?, apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak? apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan siswa diantaranya apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?, apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat dan kondisi siswa? Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya bahasa belajar siswa?

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan berkaitan dengan pertimbangan lainnya yaitu apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja?, apakah strategi yang kita tetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan?, apakah strategi itu memiliki nilai efektivitas dan efisiensi?

D.  Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran
Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan pembelajaran dan semua keadaan. Beberapa prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran diantaranya : 1) berorientasi pada tujuan, 2) aktivitas, 3) individualitas, 4) integritas (Sanjaya, 2006, 129-131).

Keberhasilan strategi pembelajaran dapat ditentukan dari keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru perlu dengan cermat menganalisis berbagai tujuan pembelajaran sehingga tidak salah dalam memilih strategi pembelajaran yang akan digunakan. Strategi pembelajaran yang dipilih guru harus mampu membangkitkan siswa untuk beraktivitas. Aktivitas dalam hal ini adalah berbagai kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran baik secara fisik maupun mental. Strategi pembelajaran yang dipilih harus sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa. Guru perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis kemampuan, karakteristik, gaya belajar dan minat siswa secara individual sehingga ia dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat sesuai dengan perbedaan individual yang dimiliki masing-masing siswa. Strategi pembelajaran harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa secara terintegrasi. Potensi-potensi tersebut diantaranya kognitif, afektif, psikomotor dan kepribadian.

Prinsip pembelajaran secara khusus diuraikan dalam Bab IV Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan psikologis peserta didik.


E.  Jenis-jenis Strategi Pembelajaran
Beberapa jenis strategi pembelajaran diantaranya : 1) strategi penyampaian (exposition/direct instruction), 2) strategi penemuan (discovery learning), 3) pembelajaran kelompok (cooperative learning), 4) pembelajaran individual (individual learning), (Rowntree, 1974 dalam Sanjaya, 2006 : 126).

Dalam strategi exposition, bahan pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk jadi, siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut, guru berfungsi sebagai penyampai informasi. Sedangkan dalam strategi discovery bahan pelajaran dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa melalui kegiatan berbagai aktivitas, guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.

Strategi pembelajaran individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan dan keberhasilan pembelajaran siswa ditentukan oleh individu siswa yang bersangkutan, bentuk kegiatan belajar dapat dilakukan melalui modul, kaset, CD, VCD dan lain sebagainya. Sedangkan dalam pembelajaran cooperative, kegiatan belajar dilakukan secara beregu, dibimbing oleh seorang atau beberapa orang guru, siswa belajar dalam kelompok kecil atau besar, setiap individu dianggap memiliki kemampuan yang sama.

Ditinjau dari cara penyajian dan pengelolaannya, strategi pembelajaran dapat pula dibedakan antara strategi pembelajaran deduktif dan induktif (Sanjaya, 2006 : 127). Strategi pembelajaran deduktif dilakukan dengan mempelajari konsep-konsep terlebih dahulu kemudian dicari kesimpulan dan ilustrasi-ilustrasi, bahan pelajaran dimulai dari hal yang abstrak menuju kepada yang lebih konkret. Sedangkan dalam pembelajaran induktif dimulai dengan mengenalkan contoh konkret dan ilustrasi kemudian menuju pada materi yang lebih abstrak.

Mengacu pada jenis-jenis strategi pembelajaran yang dikemukakan oleh Rowntree (1974), Sanjaya (2006) mengemukakan 8 jenis strategi pembelajaran yang berkembang pada tahap selanjutnya yaitu : 1) Strategi pembelajaran berorientasi aktivitas siswa (PBAS), 2) Strategi pembelajaran ekspositori (SPE), 3) Strategi pembelajaran inkuiri (SPI), 4) Strategi pembelajaran berbasis sekolah (SPPKB), 6) Strategi pembelajaran kooperatif (SPK), 7) Strategi pembelajaran kontekstual (CTL), 8) Strategi pembelajaran afektif. Kedelapan strategi pembelajaran tersebut di atas memiliki berbagai prinsip dan karakteristik yang berbeda. Strategi pembelajaran ini dapat dipilih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan masing-masing pembelajaran. Setiap strategi memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, sehingga guru perlu memilih dengan cermat strategi mana yang paling sesuai untuk siswa dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.

KASUS STRATEGI PEMBELAJARAN,PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR (SPPKB) DAN UPAYA PEMECAHANNYA.

I. Deskripsi Perkuliahan
Matakuliah ini mengkaji dan menganalisis berbagai upaya menata faktor eksternal agar terjadinya pembelajaran yang efektif, efisien dan berarah tujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Pengenalan taksonomi variabel dalam pembelajaran, Pemahaman karakteristik internal peserta didik dan upaya penetapan strategi pembelajarannya. Menganalisis kasus-kasus strategi pembelajaran di kelas.

II. Tujuan Perkuliahan
a.       Kompetensi Umum 
Setelah berakhirnya semester ketiga mahasiswa FKIP UM. Metro yang mengikuti perkuliahan ini akan mampu:
(1) melakukan penataan komponen ekstenal untuk mendukung terjadinya pembelajaran efektif, efisien dan berarah tujuan untuk mencapai hasil belajar yang optimal
(2) Mengidentifikasi taksonomi variabel dalam pembelajaran
(3) Mengidentifikasi karakteristik internal peserta didik
(4) Pengenalan konsep strategi pembelajaran
(5) Klasifikasi strtegi pembelajaran
(6) Aplikasi model dan strategi pembelajaran
(7) Variabel strategi pembelajaran
(8) Menelaah kasus-kasus pembelajaran di kelas dan upaya strategi pembelajarannya.


b. Kompetensi Khusus
Setelah berakhirnya semester ketiga mahasiswa FKIP UM Metro yang mengikuti perkuliahan ini akan mampu:
1. Menjelaskan Konsep Strategi Pembelajaran
2. Mengidentifikasi taksonomi variabel Pembelajaran
3. Mengidentifikasi karakteristik internal peserta didik
4. Sistem Pembelajaran dalam Standar proses Pendidikan
5. Pembelajaran yang berorientasi pada Aktivitas Peserta Didik
6. Pembelajaran dengan Ekspositori (SPE)
7. Pembelajaran dengan Inkuiri
8. Pembelajaran Berbasis Masalah
9. Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
10. Pembelajaran Kooperatif
10. Pembelajaran Kontekstual
11. Pemanfaatan Sumber Belajar dalam Pembelajaran
12. Pembelajaran Induktif dan Pembelajaran Deduktif
13. Pembahasan Kasus pembelajaran di kelas


III. Kegiatan Perkuliahan
Matakuliah ini dibina oleh tim dosen yang akan datang secara bersamaan dan atau bergantian, metode yang digunakan yaitu:
a.       Ceramah dan tanya jawab
b.      Penugasan secara kelompok dan presntasi atas hasil penelusuran dan kajian, terhadap strategi pembelajaran.
c.       Penugasan secara kelompok untuk melakukan observasi lapangan terhadap praktek pembelajaran di kelas.
d.      Penugasan secara individual untuk penelusuran sumber-sumber strategi pembelajaran.


IV. Evaluasi
Kreteria:
a. Kreteria evaluasi untuk tugas kelompok dari aspek tingkat kejelasan hasil kajian, analisis dan evaluasi serta presentasi hasil kajian dan penelusuran.
b. Kreteria hasil evaluasi tugas individu adalah dari aspek: konsep dasar, dan relevansi dalam kegiatan pembelajaran
c. Penelusuran sumber, kesimpulan dan komentar atas sumber yang ditelusuri.
a. Presentasi kelompok ditinjau dari: teknik penyajian, cara menanggapi saran, pertanyaan dan membuat kesimpulan.
Hasil Evaluasi:
Hasil evaluasi merupkan komulatif dari jumlah kehadiran, penyelesaian tugas kelompok, tugas individual, Ujian Tengah dan Akhir Semester, dengan bobot: tugas individual 25 %, tugas kelompok. 15 %, Ujian Tengah Semester 20 % dan Ujian Akhir Semester 40 %.

Mahasiswa dapat memilih nilai akhir sebagai berikut:
A- Jika hadir mengikuti perkuliahan minimal 80 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok paling lambat 1 hari sebelum batas waktu yang telah ditetapkan, mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
B. Jika hadir mengikuti perkuliahan minimal 80 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok pada saat tanggal presentasi yang telah ditentukan, mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
B- Jika hadir mengikuti perkuliahan minimal 80 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok terlambat dua hari dari tanggal presentasi yang telah ditentukan, mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
C. Jika hadir mengikuti perkuliahan minimal 75 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok terlambat lebih dari satu minggu yang telah ditentukan, mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
C- Jika hadir mengikuti perkuliahan minimal 75 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok terlambat lebih dari satu minggu dan penggatian tugas dari tanggal yang telah ditentukan, mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
.
D Jika hadir mengikuti perkuliahan kurng dari 70 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu dan kelompok terlambat lebih dari satu minggu dan diberi tugas pegganti dari tugas utama, tidak mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk norma yang ditetapkan untuk itu.
.
E. Jika hadir mengikuti perkuliahan kurang dari 60 % dari jumlah perkuliahan, mengumpulkan tugas individu terlambat 10 hari dari waktu yang ditentukan dan mengumpul tugas kelompok tidak memenuhi kreteria diberi tugas tambahan dan tidak mengerjakan, tidak mengikuti presentasi kelompok, mengikuti ujian tengah semester dan ujian semester memperoleh nilai masuk dalam norma yang ditetapkan untuk itu.
.
V. Jabaran kegiatan Perkuliahan dalam Pertemuan
Waktu Pertemuan Ke Materi Keterangan
1 Pembukaan Perkuliahan: Overview Perkuliahan Penjelasan dari Tim Dosen
2 Konsep dan makna Strategi Pembelajaran Tim Dosen
3 Taksonomi Variabel Pembelajaran Tim Dosen
4 Pengenalan Peserta didik dan Karakteristik bahan ajar dalam standar proses pendidikan. Tim Dosen
5 Strategi Pembelajaran yang berorientasi pada Aktivitas Peserta Didik dan Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
6 Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE) dan Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
7 Strategi Pembelajaran Inkuiri Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs Tim Dosesn
8 UTS Tim Dosen
9 Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dan Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
10 Kasus Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) dan Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
11 Kasus Strategi Pembelajaran Kooperatif dan Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
12 Kasus Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL) Upaya pemecahannya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
13 Pemanfaatan Sumber Belajar dalam Strategi Pembelajaran Tim Dosen
14 Pembelajaran Induktif dan Pembelajaran deduktif Deduktif dan implementasinya Penelusuran Sumber, Presentasi Mhs
15 Pembahasan Kasus pembelajaran di kelas/Seminar Kasus Pembelajaran Studi Lapangan
16 UAS

DAFTAR RUJUKAN: http://www.karwono.wordpress.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar